Gerakan DMI Magrib Mengaji ke-35: Jadikan Masjid hingga Rumah sebagai Pesantren

Agenda & Event 20 Aug 2026 06:13 4 min read 36 views By Gus Isqowi

Share berita ini

Gerakan DMI Magrib Mengaji ke-35: Jadikan Masjid hingga Rumah sebagai Pesantren
Menghidupkan Al-Qur’an dari Masjid hingga Rumah

 Gerakan DMI Magrib Mengaji ke-35, Menghidupkan Al-Qur’an dari Masjid hingga Rumah

 

Pondok Aren, Tangerang Selatan — Waktu Magrib kembali menjadi momentum untuk menghidupkan tradisi membaca dan mempelajari Al-Qur’an di tengah masyarakat. Gerakan DMI Magrib Mengaji ke-35 digelar di Masjid Jami’ Daarul Mu’allimin, Jalan Masjid RT 002/RW 007, Kelurahan Pondok Kacang Timur, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Selasa (18/8/2026).

 

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda mengaji bersama, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi antara pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) dari tingkat daerah, cabang, ranting, para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), serta jamaah. Pertemuan itu sekaligus diisi dengan motivasi untuk terus memperkuat gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di tengah masyarakat. 

 

Pesan utama yang disampaikan dalam Gerakan DMI Magrib Mengaji adalah pentingnya mengembalikan Al-Qur’an ke dalam kehidupan sehari-hari. Magrib bukan sekadar pergantian waktu dari siang menuju malam, tetapi dapat menjadi momentum keluarga dan masyarakat untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, kemudian membuka kembali mushaf dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

 

Gerakan ini mendorong agar masjid dan mushala tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an dan pembinaan masyarakat. Demikian pula majelis taklim diharapkan terus diperkuat sebagai ruang pendidikan keagamaan yang hidup, terbuka, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

 

Lebih jauh, semangat yang dibangun adalah menjadikan masjid, musala, majelis taklim, bahkan rumah sebagai pesantren bagi masyarakat dan keluarga. Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an tidak berhenti di lembaga formal, tetapi tumbuh dari lingkungan terdekat: dari masjid, dari majelis, dan dari keluarga sendiri.

 

Pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dipandang bukan sekadar persoalan kemampuan membaca huruf-huruf Arab, tetapi bagian dari upaya membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Ketika anak-anak, orang tua, dan masyarakat terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka diharapkan lahir pula kecintaan terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

Gerakan Magrib Mengaji juga memiliki dimensi pendidikan keluarga. Waktu setelah Magrib dapat dimanfaatkan orang tua untuk membangun kebiasaan positif bersama anak-anak. Rumah tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga dapat menjadi ruang pertama bagi tumbuhnya tradisi keislaman dan kecintaan kepada Al-Qur’an. 

 

Karena itu, semangat Magrib Mengaji bukan sekadar mengisi waktu selepas Magrib dengan aktivitas keagamaan. Lebih dari itu, gerakan ini ingin membangun kebiasaan. Dari kebiasaan membaca Al-Qur’an diharapkan tumbuh kecintaan; dari kecintaan lahir kedekatan; dan dari kedekatan diharapkan terbentuk akhlak serta kehidupan keluarga yang lebih baik.

 

Dalam kegiatan tersebut, Koordinator Gerakan DMI Magrib Mengaji Ust. H. Ir. Ali Akbar, M.Si,MM  mengajak seluruh unsur DMI dan masyarakat untuk terus menjaga kesinambungan gerakan. Program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an membutuhkan keterlibatan bersama, mulai dari pengurus masjid, guru ngaji, majelis taklim, orang tua, hingga jamaah.

 

Gerakan DMI Magrib Mengaji ke-35 menjadi pengingat bahwa membangun masyarakat Qur’ani tidak harus selalu dimulai dari program besar. Ia dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: menghidupkan waktu Magrib dengan Al-Qur’an. Satu keluarga yang mulai mengaji dapat menjadi awal.

 

Satu masjid yang konsisten menghidupkan Magrib Mengaji dapat menjadi pusat perubahan. Dan ketika gerakan itu tumbuh dari masjid ke rumah, dari rumah ke keluarga, kemudian meluas ke masyarakat, maka Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi diharapkan semakin hadir dalam kehidupan. 

 

“Satu waktu bersama Al-Qur’an, insyaAllah menjadi cahaya dalam kehidupan.”

 

Kegiatan Gerakan DMI Magrib Mengaji ke-35 turut dihadiri dan didukung jajaran Koordinator Gerakan DMI Magrib Mengaji, yakni Ketua Ust Ir. H. Ali Akbar, M.Si, Ketua Harian Ust . Khudhori, SE, MKM, dan Sekretaris Ust. Dr. Andri Saputra, S.Kom., M.Kom.

 

Gerakan tersebut diketahui oleh Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kota Tangerang Selatan yang diketuai Drs. H. Heli Slamet, M.Si.

 

Dari Masjid Jami’ Daarul Mu’allimin, semangat itu kembali ditegaskan: Magrib Mengaji bukan sekadar kegiatan, tetapi ikhtiar menghidupkan Al-Qur’an dari masjid, majelis, hingga rumah-rumah keluarga.

 

Penulis

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah..

Tangerang Hari Ini

Recent Articles

Popular Articles